Jumat, 24 September 2010

ULAT API, CANTIK TAPI PERUSAK SAWIT




Ulat Api (Setora nitens Wlk) merupakan salah satu hama yang berpengaruh dalam kelangsungan budidaya. Bagaimana tidak? Hama ini sering sekali menyerang areal pertanian. Sekitar tahun 2007 saja, hama ini dapat menyerang 500 ha kelapa sawit. Tentu saja kerugian yang ditumbulkan sangat besar.

Ulat ini disebut ulat api karena jika bulunya mengenai kulit akan menyebabkan rasa panas yang luar biasa. Ulat ini termasuk ke dalam ulat yang rakus, karena memakan semua jenis tanaman. Tanaman sering menyerang tanaman kelapa sawit, kelapa, jeruk, teh, kopi dan tanaman lainnya.

Di areal budidaya ulat ini ditemukan dengan berbagai macam warna antara lain hijau kekuningan, kuning orange atau merah orange. Pada tubuhnya juga sering terdapat bercak-bercak warna seperti hitam, kuning dan merah. Dengan warna yang sedemikian ulat ini kelihatan cantik, walaupun sebenarnya sedikit berbahaya.

Pada punggung ulat ini terdapat bulu-bulu yang runcing. Bulu tersebut tumbuh berbaris membentuk garis sejajar dari kepala hingga ke ekornya. Pada kedua ujungnya terdapat bulu dengan ukuran lebih panjang. Bulu-bulu inilah yang jika terkena kulit menyebabkan rasa panas dan biasanya diikuti dengan membengkaknya bagian yang tertusuk.

Seperti ulat yang lain, ulat ini juga merupakan proses metamorfosis. Setelah berbentuk ulat, dalam waktu 25-40 hari dia akan berubah menjadi kepompong. Kepompongnya berwarna coklat dengan ukuran 10-15 mm. Masa berkepompongnya berkisar antara 20 sampai 30 hari. Setelah menjadi kepompong akan terbentuk ngengat berwarna coklat sedikit keabu-abuan. Ngengat betina dewasa dapat bertelur mencapai jumlah 300 butir.